BNPB dan Utusan Khusus PBB Tinjau Sekolah Aman Bencana di Jakarta

BNPB dan Utusan Khusus PBB Tinjau Sekolah Aman Bencana di Jakarta

JAKARTA – BNPB dan Utusan Khusus PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR) melakukan peninjauan ke sekolah aman bencana di SDN 13 Klender, Jakarta Timur, pada Kamis (3/2). Sekolah ini merupakan salah satu fasilitas pendidikan yang telah mendapatkan pelatihan penanggulangan bencana.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 13 juga menjadi contoh sekolah aman bencana terhadap komunitas dan lingkungan sekitar. Kegiatan peninjauan dimulai dengan diskusi yang menghadirkan BNPB, Utusan Khusus PBB Mami Mizutori dan perwakilan guru serta tim siaga bencana SDN 13. Saat berdiskusi, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati berpesan kepada para guru dan siswa, mereka  juga harus memberikan pengetahuan tentang kebencanaan yang telah dimiliki kepada lingkungan sekitar sekolah dan di tempat tinggal. 

“Sekolah aman bencana ini menjadi sarana bagi guru dan siswa untuk belajar tentang lingkungannya dan menjadi agen untuk memberikan informasi kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Ini menjadi sangat baik dilakukan untuk menyadarkan masyarakat dengan literasi bencana karena kita berada di wilayah rentan bencana,” ujar Raditya.

Mami Mizutori yang ikut berdiskusi mengungkapkan, kedatangannya bertujuan untuk melihat langsung upaya sekolah aman bencana yang ada di SDN 13 karena ini merupakan tugasnya untuk menciptakan negara-negara yang lebih aman dari bencana, salah satunya melalui sekolah aman bencana.

“Menciptakan negara yang lebih aman dari bencana dan menciptakan sekolah aman adalah salah satu tujuan kami, mengingat sekolah adalah tempat bagi siswa untuk menuntut ilmu demi mendapatkan masa depan yang lebih baik,” kata Mami.

Lebih lanjut ia menambahkan, dengan adanya sekolah aman bencana diharapkan para guru dan siswa dapat menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan aman dan nyaman sehingga dapat mencetak generasi penerus bangsa yang baik.

“Dengan sekolah yang aman berarti dapat menuntut ilmu dengan baik dan ilmu yang diserap lebih baik, kemudian menciptakan generasi muda yang cerdas,” sambungnya.

Pada kesempatan sama Utin Sutinah selaku Tim Siaga Bencana SDN 13 menjelaskan, sebelum pandemi di SDN 13 rutin mengadakan pelatihan tentang terjadinya gempa dan kebakaran. 

“Tim siaga bencana terdiri dari awalnya sekitar 60 siswa sekarang tersisa 10 siswa karena sudah lulus dari sekolah dan belum sempat ada regenerasi karena terhalang pandemi yang mengakibatkan siswa lebih sering belajar di rumah. Dulu sebelum pandemi hampi setiap bulan sekali pelatihan gempa atau kebakaran,” tutup Utin.

Setelah melakukan diskusi, kegiatan selanjutnya meninjau sarana dan prasarana penunjang yang berada di sekolah tersebut, seperti ruang kesehatan, rambu-rambu evakuasi dan melihat simulasi pertolongan pertama pada siswa yang mengalami sakit ringan. 

 

(sumber : Abdul Muhari, Ph.D. /Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)

Share Berita

Dipost Oleh W Suratman

Staf Pusdalops BNPB

Post Terkait

Tinggalkan Komentar