Jelang HKB 2020, BNPB: Kedutaan Besar Australia Siap untuk Selamat

Jelang HKB 2020, BNPB: Kedutaan Besar Australia Siap untuk Selamat

JAKARTA - Kedutaan Besar (Kedubes) Australia menyadari bahwa mereka bekerja di wilayah Indonesia yang memiliki beragam jenis ancaman bencana dan dapat terjadi sewaktu-waktu. Kondisi ini mendorong Kedubes Australia dalam penyelenggaraan pelatihan ‘Humanitarian Emergency Response’ kepada staf lokal dan asing di Jakarta, pada Rabu (19/2).  

Pada sesi manajemen bencana, Direktur Kesiapsiagaan BNPB Johny Sumbung memberikan paparan berjudul ‘Prioritas Kebijakan dan Strategi Pemerintah Indonesia untuk Penanggulangan Bencana, Khususnya Kesiapsiagaan’ kepada 30 orang staf Kedubes. Johny menyampaikan bahwa tahun 2018 kejadian bencana yang terjadi mengakibatkan 6.240 orang meninggal dan hilang dengan korban terbanyak berasal bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi Sulawesi Tengah. Sedangkan pada tahun 2019, sejumlah 589 orang tercatat  meninggal dan hilang akibat bencana. Dari hitungan yang ada, terjadi penurunan jumlah korban jiwa sebesar 87%. Ini mengindikasikan keseriusan negara dalam melindungi segenap bangsa dari ancaman bencana. 

Merefleksikan data bencana pada dua tahun tersebut, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan terus menerus dilakukan untuk menekan korban akibat bencana. Sementara itu, sejak awal tahun 2020 hujan lebat terus menerus terjadi mengakibatkan beberapa bencana seperti banjir, banjir bandang dan tanah longsor. 

Di satu pihak, staf-staf kedubes sangat tertarik dengan program prabencana BNPB, seperti Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana), Keluarga Tangguh Bencana (Katana), serta Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program-program tersebut berjalan beriringan, baik di tingkat nasional sampai kabupaten/kota dalam hal ini adalah kelurahan/desa serta tingkat paling kecil keluarga. Penjelasan tentang ketiga program tersebut, juga diiringi dengan permintaan modul-modul atau bahan ajar oleh staf asing untuk dipelajari. 

Di sisi lain, staf asing lebih menekankan konteks kerja sama nyata dalam penanggulangan bencana, misal apakah negara Australia dapat membantu langsung korban bencana? Johny menjelaskan bahwa Indonesia tidak anti bantuan luar negeri namun dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki prosedur yang harus diikuti. Pada situasi lain, apabila negara asing memiliki kemitraan dengan organisasi non pemerintah (LSM), mereka dapat membantu untuk penyalurannya. Namun demikian, penyaluran ini tetapi dilaporkan aktivitas kepada otoritas berwenang, seperti BNPB, BPBD maupun pos komando. Salah satu catatan yang perlu diketahui bahwa bantuan yang diberikan pun tetap mengacu pada kebutuhan yang diminta oleh pemerintah terdampak. 

Johny juga memperkenalkan aplikasi InaRISK yang dapat diakses melalui telepon pintar. Aplikasi tersebut dapat diunduh melalui sistem operasi Androind maupun IOS. InaRISK dapat digunakan dengan mudah oleh masyarakat awam sekalipun untuk mencari informasi terkait ancaman bahaya yang ada di sekitranya. 

Di akhir sesi pelatihan, Johny mengajak para panitia dan peserta untuk membuat foto dan video sebagai bentuk dukungan Kedutaan Besar Australia dalam memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2020 yang diperingati setiap tanggal 26 April. Peserta pun menyampaikan, “Kedutaan Besar Australia, Siap Untuk Selamat.” 

Penulis: Natumirian Yahya Kantum 
Editor: Theophilus Yanuarto

(sumber : Humas BNPB)

Share Berita

Dipost Oleh W Suratman

Staf Pusdalops BNPB

Post Terkait

Tinggalkan Komentar