Obrolan Sore di RRI PRO 1: 91,2 FM Jakarta : Kesiapsiagaan Perempuan Dalam Menghadapi Bencana

Obrolan Sore di RRI PRO 1: 91,2 FM Jakarta : Kesiapsiagaan Perempuan Dalam Menghadapi Bencana

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B. Wisnu Widjaja, dalam Acara Obrolan Sore di RRP PRO 1 : 92,5 FM, Jakarta

JAKARTA – Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2019, BNPB fokus pada pelibatan kaum wanita, tema besar yang akan diangkat adalah “Perempuan Sebagai Guru Siaga Bencana,  Rumah Menjadi Sekolahnya.” 

Demikian point penting yang menjadi topik menarik dalam ‘Obrolan Sore’ di Radio Republik Indonesia RRI PRO 1 : 91,2 FM, Jakarta, kerjasama RRI PRO 1 FM Jakarta dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat, Rabu (20/03/2019), dengan nara sumber Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Ir. B. Wisnu Widjaja, M.Sc. 

Dalam pengantarnya Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, bahwa pemahaman terkait dengan ancaman ditengah masyarakat masih begitu rendah. Saat ini memang sudah ada suatu pemahaman atau kebijakan-kebijakan bagaimana menata ruang yang berbasis kebencanaan, hal ini sangat positif. Tetapi disisi lain bagaimana dengan bagunan-bangunan yang sudah ada atau dibangun sebelumnya, ini yang perlu dieprkuat kapasitasnya. 

Nah, terkait dengan kesiapsiagaan Perempuan daalam menghadapi bencana, wanita wajib memiliki dan berawasan kebencanaan, kaum perempuan atau wanita  menjadi sangat rentan terkait dengan kejadian bencana. Data menunjukan, seperti kejadian gempa Aceh misalanya, bahwa lebih dari 50% korban adalah wanita dan anak-anak. 

Dan dari saksi-saksi yang melihat langsung korban dilapangan menjadi begitu trenyuh, wanita yang menjadi korban tersebut, rata-rata dekat dengan anak-anaknya, ada yang sedang memeluk dan menggendong anaknya, dll. Artinya bahwa wanita itu punya suatu sifat/naluri  untuk melindungi anak-anaknya. Walaupun ada kesempatan untuk menyelamatkan dirinya, saat terjadi bencana, pasti wanita tersebut akan selalu memikirkan rumahnya,anaknya dan keluarga yang lain. 

Wanita juga menjadi rentan karena secara umum dalam memiliki akses terhadap sumberdaya itu cukup rendah, contohnya, akses untuk informasi, banyak wanita yang tidak paham. Bahkan dalam kegiatan simulasi/latihan kebencanaan selama ini lebih banyak kaum laki-laki yang ikut melaksanakannya. 

Bahwa konstruksi sosialnya, wanita itu ditempatkan pada kondisi bawah, misalnya ada pandangan meninggalkan rumah harus seizin suami, nah pada saat terjadi bencana mereka banyak menjadi korban dirumahnya sendiri. 

Melihat dan memahami realita seperti itu, maka kami dari BNPB berinisiatif pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun ini kami menempatkan para perempuan, wanita ini menjadi slogan kita “Perempuan Sebagai Guru Kesiapsiagaan Bencana , Rumah Sebagai Sekolahnya.” 

Disini kami melihat, kalau kapasitas atau kemampuan wanita dalam menyiapkan kesiapsiagaan kita tingkatkan, itu pasti otomatis sesuai dengan kodratinya wanita itu sendiri, akan mengajarkan hal tersebut kepada anak-anaknya yang pertama, karena ingin anaknya selamat ketika terjadi bencana. 

Nah, kalau kita bisa masuk kesana, jelas Wisnu Widjaja, saya kira akan lebih banyak masyarakat yang akan selamat ketika terjadi bencana. 

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB juga menyampaikan terkait hasil penelitian di Jepang, ketika Gempa Kobe sekitar tahun (1995), menunjukan data yang sangat menarik, bahwa kesiapan diri sendiri menempati rangking tertinggi, yaitu ; 35% yang selamat karena mampu menyelamatkan dirinya, karena mereka paham betul ancamanya seperti apa dan evakuasinya kemana. Kemudian ; 32% itu selamat karena diselamatkan oleh keluarga, sedangkan 28% diselamatkan oleh tetangga sekitarnya. Artinya apa, bahwa kekuatan kapasitas untuk keselamatan dari ancaman bencana itu ada dimasyarakat, terutama pada keluarga dan diri sendiri. 

Jadi disini pentingnya BNPB untuk memberikan penyuluhan edukasi dan sosialisasi bagaimana kesiapisgaan kaum Perempuan/Wanita dalam menghadapi bencana itu sangat penting. Latihan-latihanya yang praktis saja, cukup dirumahnya sendiri, ini bukan latihan seremoni, tetapi ini lebih kepada aksi. 

Pada prinsipnya mereka harus menguasai beberapa hal, yaitu ; pertama, adalah kenali ancamanya apa dirumah tersebut, ambil contoh misalnya kebakaran atau gempat bumi, dll. Setelah memahami risikonya, perlunya merencanakan, saya harus evakuasi lewat mana. Kemudia berikutnya betul-betul melakukan latihan, bagaimana kita menggunakan peralatan yang ada disekitar kita dirumah,  untuk melindungi diri, melindungi anak dan sebagainya, semua itu kita latihkan, sesimple itu. 

Lantas bagaimana dengan kondisi wanita dengan yang memiliki beragam profesi, ada yang menjadi ibu rumah tangga, wanita karir dan lain sebagainya. Sialahkan mereka kaum wanita dapat berperan ditempatnya masing-masing, memulai dari bagaimana tadi  memahami risiko, kita ingin pemahaman itu ditularkanya. 

Banyak hal yang bisa dilakukan. Melalui tindakan-tindakan yang sangat sepele, untuk bisa menyelamatkan banyak orang, karena terlambat lima menit saja, itu artinya sudah menimbulkan korban. 

Kembali kepada pertanyaan diatas pentingnya memberikan pemahaman dan wanita harus berwawasan kebencanaan, karena wanita itu yang memanage dirumah. Kita meningkatkan kapasitas wanita, karena mereka sering disebut sebagai kelompok rentan. Sebenarnya, lebih karena sifatnya yang selalu ingin melindungi  anak-anaknya dan anggota keluarga lain sebanyak mungkin, yang menyebabkan posisinya rentan ketika terjadi bencana. 

Pelibatan wanita dalam menghadapi bencana tidak lain karena kita perlu pemahaman masif dan sedini mungkin, karena kalau wanita itu sudah kita bekali dengan pengetahuan ini, secara otomatis nantinya akan menulakarnya minimal kepada anak-anaknya dulu. Disamping itu secara bertahap, strategi kami nantinya juga akan menggunakan jalur PKK, supaya ibu-ibu yang sudah mendapatkan beberapa hal pemahaman tadi, tentang kesiapsiagaan bencana, itu juga bisa mengajarkanya ke Dasawisma, lima keluarga disekitarnya, keluarga, lingkungan sekitar dan itu akan masif. 

Dengan demikan akan dapat merubah suatu budaya sadar bencana, budaya ini yang kita tumbuhkan, dan nanti akan berdampak terus kepada generasi kita. Ipackanya akan trelihat 5 sampai dengan 10 tahun kedepan. 

#SiapUntukSelamat 

Kita tidak henti-hentinya untuk mendorong masyarakat ikut aktif, bisa memahami dan juga meningkatkan kesiapsiagaan. Kita punya moto #SiapUntukSelamat, jadi siapa yang Siap akan selamat dan yang tidak siap, mungkin tidak selamat. Hal ini tentu bisa dipahami mengingat kita berada di daerah rawan bencana, ‘ring of fire’, makanya kita harus selalu siap, karena bencana bisa terjadi sewaktu-waktu, tanpa bisa kita mengelaknya. 

Kita tidak tahu kapan bencana terjadi disekitar kita, karena itu proses/siklus alam, yang akan selalu terulang terus. Dan yang harus kita lakukan adalah selalu meningkatkan kesiapsiagaan, tidak ada yang mengatakan bahwa kita siap, yang ada hari ini itu lebih siapp dari kemarin dan besok itu lebih siap dari hari ini. 

Artinya kita harus berlatih, terus memahami ancamanya, tterus berlatih,- berlatih, sehingga menjadi budaya sadar bencana. Wanita pada hakikatnya adalah guru yang menjadi suri tauladan bagi anak anaknya, dan rumah menjadi sekolahnya. 


#SiapUntukSelamat 
#BudayaSadarBencana 
#SrikandiSiagaBencana 
#KitaJagaALAMJagaKita 
#HKB2019 #HKB26April 

(tulisan & foto : team CR-HKB))

Share Berita

Dipost Oleh W Suratman

Staf Pastigana

Post Terkait

Tinggalkan Komentar