PELATIHAN PEMANFAATAN SISTEM PREDIKSI POTENSI BAHAYA KEBENCANAAN HIDROMETEOROLOGI

PELATIHAN PEMANFAATAN SISTEM PREDIKSI POTENSI BAHAYA KEBENCANAAN HIDROMETEOROLOGI

JAKARTA (29 November 2018) – Berdasarkan data dari DIBI BNPB, secara umum trend bencana di Indonesia meningkat dari tahun 2008 – 2016 dan lebih dari 80%  dari total kejadian bencana per tahunnya adalah bencana hidrometeorologi. Trend ke depan bencana ini akan terus meningkat karena terkait antropogenik. 

Untuk itu BNPB dalam hal ini Direktorat Kesiapsiagaan BNPB bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (29/11-2018) menggelar Pelatihan Pemanfaatan Sistem Prediksi Potensi Bahaya Bencana Hidrometeorologi menggunakan platform Multi Hazard Early Warning System (MHEWS), sistem ini dapat diakses melalui ; http://mhews.bnpb.go.id/     

Sebagaimana diketahui  bahwa BNPB telah mengembangkan sistem informasi prediksi bencana hidrometeorologi, sebagai bagian dari sistem peringatan dini multi ancaman bencana (MHEWS). Sistem ini merupakan kolaborasi dengan menggunakan data dan informasi dari Kementerian Lembaga (K/L)  teknis terkait yang proses pengembanganya dibantu oleh Tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Kegiatan ini diikuti kurang lebih oleh 40 peserta, sebanyak 20 perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat Provinsi dan 20 perwakilan dari Kantor Wilayah BMKG, serta jajaran internal BNPB. 

Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB,  B. Wisnu  Widjaja didampingi Perwakilan dari BMKG, Kepala Bidang Bidang Prediksi  dan Peringatan Dini  BMKG, Miming Saepudin, M.Si  dan Kasubdit Peringatan Dini BNPB, Bambang Surya Putra beserta jajaranya. Sementara itu dari ITB hadir, Dr. Armi Susandi, Ketua Tim Pengembangan MHEWS beserta tim. 

Dalam kata sambutanya Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB menegaskan bahwa pengembangan sistem MHEWS ini memanfaatkan teknologi data dari Kementerian Lembaga (K/L) teknis terkait yang berkolaborasi dengan human sensor

Lebih lanjut Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB berharap agar sistem MHEWS ini bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan prediksi peringatan dini, mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi yang dapat ditindaklanjuti dengan penyebaran peringatan dini secara lebih akurat dan dapat dipahami oleh masyarakat untuk menghindari jatuhnya korban jiwa serta mengurangi kerugian harta benda. 

Untuk itu Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB juga menekankan perlunya terus melakukan verifikasi untuk meningkatkan perfoma sistem MHEWS ini

Senada dengan Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Ketua Tim Pengembangan MHEWS dari ITB, Dr. Armi Susandi menguraikan secara teknis, terkait pengembangan sistem MHEWS ini. Menurut Armi Susandi, sistem MHEWS ini merupakan kombinasi dari data inaRISK dengan data curah hujan dari BMKG.  Saat ini tim dari ITB juga terus melakukan pengembangan dan penambahan untuk fitur-fitur yang ada pada sistem MHEWS. 

Adapun fitur – fitur yang ada pada sistem MHEWS saat ini, adalah Fitur Prediksi Cuaca, Fitur Pengamatan Cuaca, Fitur Prediksi Bahaya, Fitur Peringatan Bahaya, Fitur Common Alert Protocol (CAP) dan Fitur Verifikasi. 

Warning MHEWS yang diperkuat dengan analisis akan menjadi bahan keputusan untuk mempublikasikan peringatan dini bahaya hidrometeorologi ke masyarakat. 

Melalui pelatihan ini diharapkan, agar BPBD di daerah dapat melakukan  pengamatan cuaca dan memberikan peringatan, serta verifikasi situasi di lapangan sebagai feedback agar sistem MHEWS ini benar-benar teruji dan lebih baik kedepannya. 


Direktorat Kesiapsiagaan 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Share Berita

Dipost Oleh W Suratman

Staf Pastigana

Post Terkait

Tinggalkan Komentar