Peningkatan Kesiapsiagaan Bencana Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Aru

Peningkatan Kesiapsiagaan Bencana Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Aru

KEPULAUAN ARU - Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu kabupaten yang memiliki potensi bencana gempabumi dan tsunami, maka tidak heran jika saat ini beberapa kali terjadi gempabumi di Aru, juga di sejumlah wilayah di Provinsi Maluku. Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Aru sudah harus didukung fasilitas alat pendeteksi gempabumi atau seismograf. Demikian disampaikan Bupati Aru, Johan Gonga, dalam sambutannya saat membuka kegiatan sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana gempabumi dan tsunami yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di lantai II kantor BPKAD Kabupaten Kepulauan Aru, Senin (18/11).

Johan Gonga berharap agar kedepan kabupaten ini miliki alat untuk mendeteksi peringatan dini bencana tsunami serta dukungan dan sosialisasi cara mengatasi bencana. Pasalnya bila terjadi bencana, seluruh OPD bingung tidak tahu mau berbuat apa, dengan adanya alat ini diharapkan dapat membantu OPD dan masyarakat di Aru, sehingga dapat mendeteksi gempa bumi yang berdampak pada bahaya tsunami lebih cepat.

 “Dengan kehadiran dan sosialisasi yang dibawakan langsung oleh BNPB dan BPBD diharapkan dapat memberikan pengetahuan secara teknik dalam penanganan dan penyelamatan bencana di daerah ini,” harapnya.

Sementara itu, Abdul Muhari, Kasubdit Peringatan Dini, BNPB dalam paparannya terkait dengan potensi gempabumi dan tsunami di Kep.Aru mengatakan untuk gempabumi yang mengakibatkan terjadinya tsunami terjadi bila wilayah laut yang memiliki kedalaman yang sangat dalam berbeda dengan laut dangkal.

“Untuk kejadian tsunami pada laut yang dangkal kecepatan air laut ke darat itu sama dengan kecepatan mobil yakni 102 km/jam, tetapi pada laut yang dalam kecepatannya sangat cepat, karena sama dengan pesawat 750 km/jam,” jelasnya.


Untuk wilayah Aru, kedalaman lautnya dikategorikan dangkal, sehingga jika terjadi hal demikian masih memiliki waktu banyak atau lebih untuk lakukan evakuasi diri. Untuk tsunami walaupun air meluap 50 cm saja bisa membunuh atau menelan korban jiwa, karena dorongan besar airnya sangat kuat berbeda dengan air naik biasa.

“Olehnya, jika terjadi peringatan dini dari BMKG, maka secepatnya masyarakat dapat mengevakuasi diri,” ucapnya.

Kabupaten Aru memiliki potensi bencana gempa dan tsunami pada rentang level rendah hingga sedang dengan kecepatan 10 km/jam yang berada di lokus antara Kei dan Aru. Selain itu, tidak ada bukti palung Banda berada di zona aktif gempa, ini mengklarifikasi hoax beberapa waktu kemarin yang beredar Palung Banda berada pada zona aktif patahan sesar. Ini berdasarkan hasil penelitian para ahli dari Inggris dan Australia.

“Bila terjadi peringatan dini BMKG, sebaiknya menghindar dari pinggir pantai minimal 500 meter, baik itu terjadi tsunami maupun tidak, yang penting kita sudah pada titik aman,” tandasnya.

Kegiatan sosialisasi yang dilakukan kepada seluruh perangkat daerah ditutup dengan penandatanganan lembar komitmen yang dipandu oleh Kasubdit Perencanaan Siaga BNPB, Dyah Rusmiasih, sebagai  bentuk komitmen dari OPD yang terlibat dalam penyusunan rencana kontingensi sekaligus menjadi lampiran didalam  dokumen rencana kontingensi menghadapi ancaman bencana gempabumi yang mengakibatkan tsunami di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Rencana Kontingensi yang telah disusun diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dalam penanganan darurat jika bencana gempa bumi dan tsunami benar-benar terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru.

 

Direktorat Kesiapsiagaan BNPB

(sumber : BNPB/https://bnpb.go.id/peningkatan-kesiapsiagaan-bencana-gempabumi-dan-tsunami-di-kabupaten-aru)

 

Share Berita

Dipost Oleh W Suratman

Staf Pastigana

Post Terkait

Tinggalkan Komentar