Pentingnya Media Untuk Mengkampanyekan Budaya Sadar Bencana

Pentingnya Media Untuk Mengkampanyekan Budaya Sadar Bencana

JAKARTA – Sejak disahkanya UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada tanggal 26 April 2007, terjadi perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana dari prespektif responsif ke preventif, dimana semua lingkup kegiatan dalam pengelolaan risiko bencana lebih diutamakan. 

Dalam fase pra bencana, hal yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan budaya sadar bencana ditengah-tengah warga masyarakat. 

Point penting tersebut mengemuka dalam diskusi dengan jajaran Redaksi Kompas Group, Kamis (19/04/2018) di Gedung Kompas Multimedia Tower, Kawasan Palmerah, Jakarta Barat. 

Diskusi tersebut sebagai rangkaian kegiatan Media Visit dari Kedeputian Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB dalam rangka sosialisasi Hari Kesiapsiagaan Bencana 2018. 

Dari BNPB, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, B. Wisnu Widaja didampingi Kasubdit Pencegahan, Berton SP Panjaitan, Kepala Bidang Humas, Rita Rosita S serta jajaran staf lainnya. 

Rombongan diterima oleh Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV, Yogi Nugraha beserta jajaranya, serta dilanjutkan bertemu dengan jajaran Redaksi Kompas Cetak. 

Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV sangat apresiasi dan menyambut dengan gembira atas kehadiran tim dari BNPB. Dalam kesempatan tersebut dari Kompas TV meminta maaf atas ketidak hadiran Rosiana Silalahi selaku Pemimpin Redaksi, karena harus menyiapkan program livenya. 

Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV menguraikan sekilas tentang sejarah dan latar belakang Kompas TV. Terkait dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana, 26 April pada prinsipnya jajaran Redaksi Kompas siap mendukung kegiatan hari Kesiapsiagan Bencana tersebut, bahkan beberapa liputan terkait HKB 2018 sudah dimuat di media yang ada di Group Kompas. 

Disisi lain dari jajaran Redaksi Kompas menyampikan bahwa pentingnya membangun budaya/culture bagi warga masyarakat untuk kesadaran kesiapsiagaan bencana tersebut. Disamping itu juga perlunya pendekatan kepada para pemuka agama, untuk mensosialisasikan kesiapsiagaan bencana ini. 

Dari perbincangan tersebut mengemuka bahwa perlu adanya regulasi dan aturan yang bisa mengikat setiap warga masyarakat untuk ikut latihan evakuasi kesiapsiagaan bencana ini pada hari Kesiapsiagaan Bencana, 26  April, hal ini mengingat potensi dan ancaman bencana di wilayah Indonesia begitu nyata. 

Dalam kesempatan tersebut Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B.Wisnu Widaja memaparkan secara detail tentang Hari Kesiapsiagaan Bencana. Mengingat kondisi kerentanan wilayah Indonesia dari potensi ancaman bencana, perlu adanya latihan evakuasi mandiri yang dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan, untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam neghadapi ancaman bencana di Indonesia. 

Berbagai langkah telah ditempuh oleh BNPB, dan kami tidak pernah lelah untuk terus mengajak semua pihak termasuk rekan-rekan media, untuk ikut mengkampanyekan budaya sadar bencana ini, jelas Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB. 

“Ini bukan semata-mata keinginan BNPB, tetapi ini merupakan kebutuhan kita semua, termasuk kebutuhan rekan-rekan media. Haknya masyarakat untuk mendapat perlindungan, tetapi masyarakat juga harus ikut dalam kegiatan penanggulangan bencana, ”jelas Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB.

Share Berita

Dipost Oleh W Suratman

Staf Pastigana

Post Terkait

Tinggalkan Komentar