Peran Media Begitu Penting dalam Penyebaran Informasi Kebencanaan

Peran Media Begitu Penting dalam Penyebaran Informasi Kebencanaan

JAKARTA – Masalah komunikasi melalui media adalah tantangan yang besar, kurangnya pemahaman dalam penyebaran dan pencernaan informasi dapat membuat masyarakat mudah panik, terutama dalam merespon persoalan bencana. 

Demikian salah satu point diskusi dalam rangkaian audensi tim panitia Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB 2018) dibawah Kedeputian Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (10/04/2018) di PT. Lativi Media Karya (TV One), Kawasan Pulaugadung, Jakarta Timur. 

Hadir dari BNPB, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, B. Wisnu Widjaja,  didampingi Kasubdit Peringatan Dini, Bambang Surya Putra, Bidang Humas, Rita Rosita dan Kepala Seksi Kebutuhan & Sumberdaya, Novi Kumalasari serta jajaran staf BNPB lainya. 

Rombongan BNPB diterima oleh Vice Editor in Chief TV One, Totok Suryanto didampingi jajaran redaksi lainya. 

Menurut Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B. Wisnu Widjaja, bencana tidak dapat ditanggulangi oleh orang per orang, tapi butuh partisipasi dari semua pihak, termasuk dari rekan-rekan media. Peran media begitu penting dalam penyampaian persoalan kebencanaan ini, termasuk peran media social begitu efektif untuk penyebaran informasi kebencanaan. Disisi lain perlu adanya filter, harus selalu merujuk pada sumber informasi dari intansi yang berwenang, hal ini untuk menghindari penyebaran informasi yang tidak benar. 

Sementara itu dari jajaran TV One menyambut gembira dengan adanya kunjungan dan audensi tersebut, dalam sesi tanya jawab terlihat, mereka sangat antusias melalui berbagai pertanyaan seputar hal-hal yang terkait dengan kebencanaan. Banyak hal yang mengemuka dalam audensi tersebut dan perlu menjadi bahan kajian kedepanya. 

Selama ini ujar Vice Editor in Chief TV One, Totok Suryanto, media menggunakan banyaknya jumlah korban sebagai acuan untuk mengeluarkan ‘Breaking News’ ketika terjadi bencana. Kedepan mestinya perlu diadakan koordinasi dengan awak media untuk acuan liputan kebencanaan. Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB menambahkan bahwa pemahaman kebencanaan dan bagi awak media menjadi penting, selian itu juga perlunya persiapan ketika awak media diterjunkan kelapangan untuk meliput kejadian bencana. Satu hal yang harus menjadi pegangan bagi awak media ketika akan memakai data angka terkait bencana, sebaiknya gunakan data angka dari pokso. BNPB telah menyediakan platform : https://inarisk.bnpb.go.id/ , Lebih baik perhatikan risikonya melalui website tersebut. Dan bencana yang paling tinggi frekuensinya dan paling mematikan adalah bencana hidrometeorologi: banjir dan tanah longsor. 

Terkait Hari Kesiapsiagaan Bencana, tahun ini BNPB metargetkan jumlah peserta partisipatif sebanyak 25 juta orang, capaian angka tersebut sangat membutuhkan peran partisipatif dari rekan-rekan media untuk ikut mengkampanyekan Hari Kesiapsiagaan Bencana ini. 

“Untuk meningkatkan disaster resilience, kita haru bisa merubah cara pandang terhadap bencana itu sendiri. Sejak lahirnya UU No.24/Th.2007, ada perubahan besar dalam penanganan bencana, yaitu paradigma dari respon menjadi prefentif.  Dan  kita juga harus ubah paradigma bencana menjadi berkah,” ujar B. Wisnu Widjaja. (*)

 

Share Berita

Dipost Oleh W Suratman

Staf Pastigana

Post Terkait

Tinggalkan Komentar