Sosialisasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2018

Sosialisasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2018

Sosialisasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2018 di Graha BNPB, Selasa (13/03/2018) di hadiri oleh Kementerian dan Lembaga, Organisasi/NGO dan Para Penggiat Kebencanaan, Lembaga Usaha, dll.

JAKARTA - Sejak disahkanya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 20017 tentang Penanggulangan Bencana pada tanggal 26 April 2007, maka telah mengubah paradigma penanggulangan bencana dari perspektif responsif ke preventif. Paradigma ini harus menjadi cara berfikir dan cara bertindak bangsa Indonesia dan menjadikanya sebagai budaya. 

Maka dalam rangka memperingati ke 11 (sebelas) tahun lahirnya Undang-Undang Nomor 24 tersebut, dan sebagai upaya penguatan kapasitas di masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan “Sosialisasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2018”. 

Acara sosialisasi yang di buka langsung oleh Kepala BNPB, Williem Rapangilei tersebut di gelar di Garaha BNPB, Lt.15, Jakarta Timur, Selasa (13/03/2018). Selain itu acara ini juga di hadiri oleh jajaran elselon satu, eselon dua dan staf BNPB, BPBD dari berbagai daerah, jajaran Kementerian dan Lembaga, Kalangan Organisasi/NGO, komunitas penggiat penanggulangan bencana, kalangan dunia usaha, dan tamu undangan lainya. 

Dalam sambutanya Kepala BNPB menegaskan bahwa gambaran tren bencana kedepan juga akan cenderung meningkat karena pengaruh beberapa faktor, seperti meingkatkanya jumlah penduduk, urbanisasi, degradasi lingkungan, kemiskinan dan pengaruh perubahan iklim global. 

Lebih lanjut Kepala BNPB juga menyampaikan bahwa di Jepang setiap tanggal 01 September, ditetapkan sebagai Hari Pencegahan Bencana, yang ditandai dengan melaksanakan gladi dan simulasi bencana secara massal dan serentak. 

Berdasarkan hasil survey di Jepang pada kejadian gempa Great Hanshin Awaji (1995), menunjukan bahwa prosentase korban selamat dalam durasi ‘golden time’ justru dari kesiapsiagaan diri sendiri (35%), jelas bahwa penguasaan dan pengetahuan yang dimiliki oleh diri sendiri untuk menyelamatkan dirinya dari potensi bencana sangat penting. Disinilah perlunya, latihan Kesiapsiagaan mandiri dalam meningkatkan penyadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh komponen bangsa dalam menghadapi potensi bencana. 

Sementara itu Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B. Wisnu Widjaja dalam paparanya menguraikan bahwa kegiatan kesiapsiagaan dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana ini jangan hanya sekadar seremonial, tetapi bagaimana menumbuhkan kesadaran akan budaya sadar bencana.   

Disisi lain yang tidak kalah pentingnya, bagaimana warga masyarakat mengenal ancaman dan risiko di sekitar tempat tinggalnya, untuk itu BNPB telah menyediakan platform : https://www.inaRisk.bnpb.go.id  untuk mengetahui ancaman apa yang ada disekitar anda .

“Cek risiko bencana daerah Anda di : https://www.inarisk.bnpb.go.id   Jika kita bisa mengelola risiko, maka kita bisa mengurangi dampaknya,”jelas Wisnu Widjaja. 

Setelah mengetahui ancaman apa yang ada disekitar kita, maka selanjutnya kita perlu bersiap diri dan apa yang harus dilakukan, melalui latihan kesiapsiagaan secara rutin dan terencana. Maka disinilah arti pentingnya Hari Kesiapsiagaan Bencana, melalui simulasi secara serentak di seluruh Indonesia. 

Hal ini mengingat tingkat kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana masih rendah, disamping itu kesiapsiagaan belum menjadi budaya. Sehingga urgensi kedaruratan bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Menciptakan budaya aman dan mengurangi korban jiwa akibat dampak bencana, sehiangga pada akhirnya akan terwujud masyarakat Indonesia yang tangguh menghadapi bencana. (ws) 


#SiapUntukSelamat 
#BudayaSadarBencana 
#GiatHKB2018

Share Berita

Dipost Oleh W Suratman

Staf Pastigana

Post Terkait

Tinggalkan Komentar